# Ikuti Wisata Umroh Bersama Al Habib Hasan Bin Ja'far Assegaf Perjalanan 9 Hari Hanya $ 2.250 Pada Bulan Maret 2018, Hotel Bintang 5 ( Madinah : Al-Haram & Makkah : Pullman ) Informasi Lebih Lanjut Hubungi : Office (021) 7865854, Ust Zaenal 08111900677, Ust Jamaluddin 081283141921, Musthofa 08111103712 # Rekening Donasi Pembangunan Masjid "Nurul Musthofa Center" Rek BCA 7330.46.9000 , Mandiri 127.00.0567890.7, An. Yayasan Nurul Musthofa Lil Hb Hasan Bin Ja'far Assegaf # Pembukaan Majlis Nurul Musthofa Sabtu Tgl 09 Juli 2017 Bertempat Masjid Al Khairriyah Jl. Kelapa Tiga Jagakarsa Jakarta Selatan Pukul 20.00 Wib s/d Selesai #

KISAH SEBUAH KEJUJURAN
Bookmark and Share


KISAH SEBUAH KEJUJURAN

Abu Abdirrahman Abdullah bin Mubarok lahir di Marwa pada tahun 118 H. dan wafat di bulan Ramadhan, saat kembali dari medan perang pada 181 H. dalam umur 63 tahun, atau yang bertepatan dengan tahun 736 – 797 M. Beliau adalah seorang ahli fikih, ahli hadits, punya sikap wara’ atau hati-hati, terpercaya dalam bidang hadits, zuhud, suka berjihad, sangat alim, pemberani, dermawan, ahli sejarah, dan lain-lain

Kita mengenal Abdullah bin Mubarak, namun tahukah kita siapa ayahnya? Membaca salah satu episode kehidupan Mubarak, kagumlah kita betapa jujurnya ia dan karenanya pantaslah jika putranya menjadi ulama besar. Belasan tahun sesudah abad pertama Hijriyah berlalu, Mubarak masih menjadi budak. Ia ditugasi oleh tuannya untuk menjaga kebun anggur. Bertahun-tahun Mubarak menjadi penjaga kebun anggur itu.

Suatu hari, majikannya datang ke kebun itu dan minta diambilkan anggur yang manis. Mubarak mengambilkan salah satu buah anggur, tetapi majikannya tidak berkenan saat mencicipinya. “Ini masam, Mubarak,” katanya dengan nada kecewa, “carikan yang manis” Mubarak mengambilkan buah kedua. “Ini juga masam, carikan yang manis!” kata-kata itu kembali meluncur dari sang majikan setelah ia mencicipinya. Mubarak mengambilkan buah anggur ketiga. Lagi-lagi, wajah majikan menandakan raut muka kecewa setelah memakannya. “Ini masam, Mubarak. Apakah kau tidak bisa membedakan buah anggur yang manis dan buah delima yang masam?” “Saya tidak dapat membedakannya, tuan. Sebab saya tak pernah mencicipinya?” Mendengar jawaban itu, alangkah herannya sang majikan. “Kau tidak pernah mencicipinya? Padahal kau sudah bertahun-tahun aku tugaskan menjaga kebun ini” “Iya tuan. Engkau menugaskan aku untuk menjaganya, bukan untuk mencicipinya. Karenanya aku tidak berani mencicipinya walaupun satu buah,” jawab Mubarak. Sang majikan tidak jadi marah. Persoalan tidak mendapatkan delima yang manis terlupakan begitu saja. Yang ada kini hanya kekaguman. Ia kagum dengan kejujuran penjaga kebunnya. Belum pernah ia mendapati seseorang yang lebih jujur dan memegang amanah melebihi budak di hadapannya ini. “Wahai Mubarak, aku memiliki putri yang belum menikah dan sudah banyak orang meminangnya,” kata sang majikan mengubah topik pembicaraan, “menurutmu, siapakah yang pantas menikah dengan putriku ini?” “Dulu, orang-orang jahiliyah menikahkan putrinya atas dasar keturunan,” jawab Mubarak, “Orang-orang Yahudi menikahkan putrinya atas dasar harta dan kekayaan.

Orang-orang Nasrani menikahkan putrinya atas dasar ketampanan. Maka sudah selayaknya orang-orang Muslim menikahkan putrinya atas dasar agama.” Jawaban ini semakin membuat sang majikan kagum dengan Mubarak. Lalu pergilah sang majikan kepada istri dan putrinya memberitahukan perihal cerita budaknya ini Dan selang beberapa waktu, Mubarak dipilih olehnya untuk menjadi menantu. Ia dinikahkan dengan putrinya. Dan dari pernikahan mereka, lahirlah Abdullah bin Mubarak pada tahun 118 hijriyah. Demikianlah, kejujuran selalu berbuah manis.

Apa yang dialami Mubarak, kejujuran membuatnya bebas, dari budak menjadi orang yang merdeka. Bahkan, kejujuran mempertemukannya dengan cinta dan jodohnya. Karena Kejujuran selalu berbuah manis. Kisah ini menegaskan, bahwa jika kita menginginkan anak yang shalih, maka hal itu harus dimulai dari diri kita. Dengan menjadi pribadi yang jujur, dengan menjadi pribadi yang berakhlak mulia, dengan menjadi pribadi yang shalih yang berpegang teguh pada agama. Lalu menikah dengan wanita yang taat pada orang tua, jujur, berakhlak mulia dan berpegang teguh pada agama juga..


Kembali